Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Manusia Pilihan Tuhan

palm siluets Santa Monica, Los Angeles, California, USA siluet early morning stock pictures, royalty-free photos & images
Foto: istockphoto

Pagi itu matahari mulai beranjak pelan menyinari bumi, perlahan sinarnya menghangatkan tubuh ini. Aku menyusuri jalanan yang masih sepi, pagi-pagi sekali, sementara anak manusia yang lain masih ada di dalam mimpi indahnya. Suasana yang dingin menambah semangatku untuk terus menyusuri jalanan yang lumayan jauh. 

Aku akan pergi ke pasar tradisional bersama Ibuku. Menyusuri jalanan sambil sesekali menebar tawa karena hal-hal kecil. Indah sekali pagi itu, matahari tersenyum hangat kepada kami berdua, debu kemunafikan belum tersebar, udara segar benar-benar menyejukkan hati di sepanjang jalan. 

Untuk sampai ke pasar tradisional aku dan ibu menggunakan transportasi sungai, transfortasi yang menghantarkan kami ke pasar itu adalah sebuah sampan kecil yang terbuat dari papan. Di kampung halamanku sampan bermesin itu  disebut dengan pompong. Menggunakan pompong inilah kami menyeberangi sungai.

Udara semakin dingin ketika pompong mulai bergerak, kicauan burung pun ikut bernyanyi menemani pagi kami yang penuh semangat. Sesekali deburan ombak pun mengguncangkan pompong kecil itu. Selain aku dan ibu, penumpang lain juga ikut meramaikan di dalamnya. Ternyata meskipun kita sudah ada di zaman yang serba modern dan canggih, pasar tradisional masih banyak diminati masyarakat. 

Berdesakan memasuki pasar tradisional sudah biasa dilakoni, meskipun di masa pandemi seperti ini. Para pembeli berbondong-bondong menuju ke tempat para pedagang. Sesekali terdengar teriakan sang pedagang “sayurnya kak, ikannya kak”, sambil melemparkan senyuman ke pembelinya yang masih berdesakan. 

Meskipun masuk dengan berdesakan, protokol kesehatan tetap menjadi hal utama yang harus diterapkan, Sarah satunya memakai masker. Pasar yang lumayan besar itu dipadati dengan pedagang yang membawa dagangannya. Sayur-mayur serta ikan yang masih segar menambah semangat pembeli untuk berlama-lama di dalamnya. 

Tak jauh di depan aku dan Ibu yang sedang asik memilih sayuran segar, terlihat seorang anak kecil, yang duduk di samping jalan. Dengan sedikit samar-samar karena berdesakan dengan pembeli lain, aku melihat anak kecil itu duduk dengan sebuah kotak kecil di depannya., dengan beralaskan Koran sambil bersimpuh di samping jalan itu. Sepasang bola mata ini tak terlepas dari tempat duduk anak kecil tersebut. Aku pun beranjak menghampiri anak kecil itu, sedangkan ibuku masih asik memillih sayuran di depan nya.

Anak kecil dengan sebuah kotak kecil yang sudah lusuh di sampingnya, duduk di antara sekatan tempat pedagang berjualan. Ternyata setelah aku mendekat dia masih sangat kecil, bertubuh mungil. Di dalam kotak kecilnya terdapat uang dua ribuan yang entah berapa jumlahnya. Ternyata dia seorang pengemis. Terlihat dari raut wajahnya, dia sangat lelah, badannya penuh dengan bekas luka bakar. Di samping dia duduk ada sebuah tongkat kecil, yang ia gunakan untuk membantunya berjalan menyusuri kehidupan ini.

Anak kecil seperti dia harusnya merasakan keindahan masa kecil, menghabiskan masa kecilnya dengan segudang kebahagian, bermain dengan anak seusianya, namun tidak dengan dirinya. Dia tidak memiliki pendidikan seperti anak seusianya. Dia tidak memiliki ayah dan ibu. ayah dan ibunya lebih dulu dipanggil sang khalik. Dia harus berhari-hari duduk di jalan untuk mendapatkan uang, karena dia harus menghidupi kakek dan neneknya yang sudah mulai sepuh. 

Sebelumnya aku mencoba menanyainya soal mengapa ia melakoni hal ini. 

"Aku minta-minta seperti ini untuk nenek sama kakek, udah tua. ibu sama bapak sudah nggak ada, Kak." Katanya memberiku penjelasan. 

Anak kecil berhati malaikat itu pasti pilihan Tuhan. Anak kecil lain mungkin sedang asyik bermain menghabiskan indahnya masa kecil. Namun, dia bersemangat mencari rupiah agar bisa makan di hari esok dan hidup lebih lama lagi. Baju lusuh dan tongkat kecil menjadi saksi perjalanan kehidupannya. Kotak kecil itu masih terbuka luas untuk orang-orang yang lewat, semoga bisa memberi sedikit rezekinya untuk malaikat kecil ini. 

Cerita ini ditulis oleh Misnawati. Mahasiswa yang kerap disapa Ana ini sedang duduk di bangku kuliah jurusan Jurnalistik.

2 comments for "Manusia Pilihan Tuhan"